
Demi Sembako Murah, Warga Jagakarsa Rela Tempuh 13 Kilometer ke Pancoran
Financial | 12 Mar 2025 - 13:03 WIB
2025-04-24 20:19:45
China kembali mencuri perhatian dunia. Kali ini, bukan lewat kekuatan ekonominya, melainkan melalui langkah besar di luar angkasa. Pada 25 April 2025, tiga astronaut asal Negeri Tirai Bambu resmi meluncur ke luar angkasa dalam misi Shenzhou-18, menandai babak baru dalam proyek ambisius pembangunan stasiun luar angkasa Tiangong. Di tengah persaingan eksplorasi antariksa global yang semakin ketat, langkah ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga simbol bahwa China benar-benar serius mengejar posisi sebagai pemimpin di jagat luar angkasa.
Tiga astronaut yang berangkat dalam misi ini adalah Ye Guangfu, Li Cong, dan Li Guangsu. Nama Ye Guangfu mungkin sudah tidak asing lagi ia adalah astronaut senior yang sebelumnya pernah menjalani misi Shenzhou-13. Pengalamannya menjadi bekal penting dalam misi ini. Sementara itu, Li Cong dan Li Guangsu mewakili generasi baru astronaut China muda, terlatih, dan siap menghadapi tantangan hidup selama enam bulan di luar Bumi. Ketiganya akan tinggal dan bekerja di stasiun luar angkasa Tiangong, yang saat ini menjadi kebanggaan teknologi antariksa China.
Apa yang mereka lakukan selama di sana? Misi ini punya banyak tujuan, dan semuanya saling berkaitan. Fokus utamanya adalah memperkuat kemampuan hidup manusia di luar angkasa. Itu berarti mereka akan melakukan eksperimen ilmiah untuk melihat bagaimana tubuh manusia, tumbuhan, dan berbagai organisme lain merespons kondisi mikrogravitasi. Mereka juga akan menguji bahan-bahan baru yang bisa tahan terhadap kerasnya lingkungan antariksa, termasuk radiasi kosmik. Dalam jangka panjang, hasil eksperimen ini bisa berguna untuk mendukung misi yang lebih ambisius seperti membangun pangkalan di Bulan atau bahkan mengirim manusia ke Mars.
Tapi bukan cuma eksperimen sains. Ketiga astronaut juga akan melakukan serangkaian pekerjaan pemeliharaan dan perakitan di stasiun luar angkasa. Mereka akan memasang peralatan baru, memperbarui sistem teknologi, dan memastikan semua berjalan dengan baik. Salah satu fokus utama adalah sistem pendukung kehidupan seperti sistem daur ulang air dan udara yang menjadi kunci agar astronaut bisa hidup lebih lama di luar angkasa tanpa harus terus-menerus bergantung pada pasokan dari Bumi.
Peluncuran misi ini juga menjadi langkah strategis bagi China dalam membangun pengaruhnya secara global. China menyatakan bahwa stasiun luar angkasa Tiangong akan terbuka untuk kolaborasi internasional. Ini bukan hanya soal berbagi ruang dan peralatan, tetapi juga soal memperluas kerja sama ilmiah antarnegara. Beberapa negara berkembang bahkan sudah menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam riset di Tiangong. Dalam hal ini, China memainkan peran penting dalam membentuk wajah baru diplomasi luar angkasa: bukan sekadar perlombaan siapa yang lebih dulu, tetapi siapa yang mau berbagi.
Namun, langkah ini tentu saja tak lepas dari sorotan dan pro-kontra. Beberapa negara menyambut baik tawaran kerja sama dari China, melihatnya sebagai peluang emas untuk terlibat dalam penelitian antariksa yang selama ini dikuasai oleh negara-negara Barat. Tapi ada juga yang khawatir. Latar belakang militer dari sebagian besar astronaut dan keterlibatan Angkatan Bersenjata China dalam proyek luar angkasa ini menimbulkan pertanyaan apakah ini benar-benar hanya untuk kepentingan ilmiah? Atau ada agenda lain di baliknya? China sendiri menegaskan bahwa semua misinya adalah damai dan bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan bagi umat manusia.
Yang jelas, lewat misi Shenzhou-18, China tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologinya, tapi juga kematangan organisasinya dalam menjalankan proyek sebesar ini. Peluncuran dilakukan sesuai jadwal, tanpa kendala berarti. Hal ini menunjukkan bahwa China Manned Space Agency (CMSA) sudah mencapai level kedewasaan yang setara dengan badan antariksa besar seperti NASA atau ESA. Dan mereka tidak akan berhenti di sini. CMSA telah mengumumkan akan ada lebih banyak misi dalam beberapa tahun ke depan, termasuk rencana menambahkan modul baru di stasiun Tiangong dan membuka peluang bagi muatan ilmiah dari berbagai negara.
Bagi masyarakat dunia, peluncuran ini adalah pengingat bahwa eksplorasi luar angkasa bukan lagi monopoli satu-dua negara saja. Dunia kini memasuki era baru, di mana lebih banyak negara punya kesempatan untuk melibatkan diri dalam pencapaian luar angkasa. Di sisi lain, bagi China, ini adalah bukti bahwa mereka mampu berdiri sejajar dengan para raksasa teknologi dunia. Langkah mereka bukan hanya soal mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi juga tentang bagaimana membangun masa depan di luar batas langit yang kita kenal.
Dengan peluncuran Shenzhou-18, satu hal menjadi jelas: antariksa kini bukan sekadar mimpi ilmiah, melainkan arena nyata tempat negara-negara menunjukkan kekuatan, berbagi ilmu, dan merancang masa depan umat manusia.Baca juga : Kemenparekraf Menyiapkan Strategi Atasi Bencana Hidrometeorologi di Destinasi Wisata Jelang Libur Nataru
Baca juga : 7 Tips Tetap Semangat Bekerja Saat Ramadhan
Pewarta : Fahmi Rifaldi
Demi Sembako Murah, Warga Jagakarsa Rela Tempuh 13 Kilometer ke Pancoran
Financial | 12 Mar 2025 - 13:03 WIB
Edu/Tech | 31 Aug 2025 - 05:51 WIB
Hukum & Politik | 31 Aug 2025 - 05:45 WIB
Lifestyle | 31 Aug 2025 - 05:41 WIB
Edu/Tech | 30 Aug 2025 - 09:06 WIB
Lifestyle | 30 Aug 2025 - 09:06 WIB
Internasional | 02 Sep 2024 - 11:55 WIB
Lifestyle | 04 Sep 2024 - 19:37 WIB
Entertainment | 04 Sep 2024 - 20:18 WIB
Entertainment | 05 Sep 2024 - 18:43 WIB